INSPIRASI HATI: Dinamika Penyakit Ayam di 2012 dan Prediksinya di 2013
SELAMAT DATANG DI BLOGGER TRI BUDI YUDAWAN

Dinamika Penyakit Ayam di 2012 dan Prediksinya di 2013

on Minggu, 23 Desember 2012

Seperti halnya setiap penutupan tahun, menjelang berakhirnya tahun 2012 ini kita perlu melakukan evaluasi terhadap kinerja dan perkembangan usaha peternakan kita di tahun ini untuk menentukan target di tahun yang akan datang. Tentunya ada target yang sudah tercapai, dan ada yang belum bisa dicapai. Bila belum berhasil dicapai, kita perlu mengkaji penyebab dan tentu saja solusi yang harus dilakukan sehingga dapat diantisipasi di tahun berikutnya.

Gambaran Umum Penyakit di 2012


Kondisi umum penyakit yang menyerang ayam pedaging dan petelur di Indonesia setiap tahunnya telah dirangkum oleh tim Technical Support Medion pada grafik 1 dan 2. Dari kedua grafik dapat dilihat bahwa serangan penyakit di peternakan masih didominasi oleh penyakit lama. Pada ayam petelur misalnya, penyakit bakterial masih didominasi oleh korisa, colibacillosis dan CRD. Sedangkan ND masih menjadi primadona penyakit viral. Sama halnya dengan ayam petelur, penyakit bakterial CRD kompleks, korisa, CRD, dan colibacillosis juga paling sering ditemukan di peternakan ayam pedaging. Dan Gumboro menduduki peringkat teratas sebagai penyakit viral yang menyerang ayam pedaging.
Kasus IB pada ayam pedaging yang pada tahun 2010 merebak, sejak awal tahun hingga Agustus 2012 belum lagi ditemukan. Masih pada ayam pedaging, kasus aspergillosis yang di tahun 2011 tidak ditemukan, sampai Agustus 2012 ini kembali terjadi bahkan lebih banyak dibandingkan dengan yang terjadi di 2010. Untuk ayam petelur, kasus aspergillosis hingga Agustus 2012 meningkat dibandingkan 2010 dan 2011.
Terlihat pula pada grafik 1, cacingan, colibacillosis, CRD kompleks dan ILT mengalami peningkatan kasus. Bahkan kasus ILT naik signifikan presentase kejadiannya dibandingkan tahun 2011 dan 2010. Tidak berbeda halnya dengan ayam petelur, tren penyakit CRD, CRD kompleks dan colibacillosis juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di farm ayam pedaging (grafik 2).
Sedikit tambahan dari pemantauan tenaga lapangan kami hingga Desember 2012 ini, dilaporkan bahwa kasus korisa pada ayam pedaging meningkat kejadiannya. Kemudian pada ayam petelur mulai ditemukan beberapa kasus penyakit Marek. Hal ini tentunya patut menjadi “warning” bagi peternak di tahun 2013.

Tetap Waspada ND dan AI
Jika dilihat dari bulan Januari hingga Agustus 2012, tren kasus ND dan AI secara umum menurun (grafik 3 dan 4). Berdasarkan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan tim Tech. Support Medion selama ini, wabah AI menunjukkan pola berulang sepanjang tahun dengan puncak penyebaran virus H5N1 pada saat curah hujan tinggi yaitu bulan Januari sampai April, dan masa peralihan musim (pancaroba, red). Persentase kasus AI setiap bulannya terlihat pada tabel 1. Kasus AI tersebut pun melanda hampir tiap propinsi di Indonesia, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan tertinggi kejadiannya di Sulawesi.
Berkaitan dengan ND, sejak awal tahun 2011 kasus ND tinggi merebak di peternakan. Kasus yang ditemukan pun menunjukkan bahwa virus yang dominan menyerang adalah virus ganas (velogenic) meskipun program vaksinasi telah dilakukan sedemikian padat. Medion yang berkerja sama dengan Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Mahardika, ahli virologi dan biologi molekuler Universitas Udayana, sebelumnya telah melakukan mapping virus ND dan menyimpulkan bahwa virus ND yang dominan bersirkulasi di Indonesia tahun 2009-2010 termasuk ke dalam genotipe VIIB (G7B).
Menyikapi kondisi tersebut, akhirnya di tahun 2012 vaksin ND yang berisi virus ND isolat lokal pun diproduksi, salah satunya oleh Medion (Medivac ND G7B Emulsion), guna mencegah serangan virus ND ganas tersebut. Baik ND maupun AI, bila dilihat dari rangkuman data di atas kejadiannya di bulan Agustus semakin menurun. Namun kemungkinan akan terjadi peningkatan kasus hingga akhir Desember dengan pertimbangan bahwa akhir tahun mulai memasuki musim hujan dan hal itu merupakan faktor predisposisi penyebaran virus penyakit.
Virus AI dan ND memiliki karakteristik tidak stabil di lingkungan, terutama jika terpapar suhu panas sehingga ketika musim kemarau kasusnya cenderung menurun, sementara di musim hujan cenderung tinggi. Selain di musim hujan, saat pancaroba pun AI dan ND wajib diwaspadai. Pergantian cuaca di musim pancaroba bisa menimbulkan stres pada ayam. Akibatnya daya tahan tubuh ayam menurun sehingga bibit penyakit dapat dengan mudah menyerang, termasuk virus AI dan ND.

Kasus ILT Meningkat Signifikan
Melihat perkembangan penyakit selama 2012 terutama pada ayam petelur, kita akan melihat bahwa persentase kejadian ILT meningkat sangat signifikan dibanding tahun 2010 dan 2011, dan tertinggi terjadi di bulan Mei, yaitu saat memasuki masa pancaroba.
Kondisi stres dan kadar amonia yang tinggi dalam kandang bisa menjadi pemicu timbulnya kasus ILT di lapangan. Faktor lain seperti adanya umur yang berbeda dalam suatu lokasi peternakan yang melakukan vaksinasi ILT secara heterogen dan status carrier dari ayam yang pernah terserang ILT dalam waktu lama, menjadi alasan mengapa ILT sulit untuk benar-benar dihilangkan. Penyakit ILT juga bisa berkomplikasi dengan agen penyakit lain, misalnya CRD dan korisa.
Dalam melakukan vaksinasi ILT pun berhasil atau tidaknya vaksinasi ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya berasal dari kondisi awal ayam yang akan divaksin, aplikasi vaksinasi ILT, serta dosis vaksin tiap ekor ayam. Reaksi post vaksinasi yang muncul setelah vaksinasi ILT juga perlu diperhatikan. Reaksi post vaksinasi ILT wajar terjadi dan akan hilang dalam waktu 7-10 hari. Namun jika berlebihan, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap faktor-faktor di atas.

Aspergillosis dan Mikotoksikosis Kembali Merebak
Tren mengenai mulai meningkatnya kasus aspergillosis dan mikotoksikosis, baik pada ayam petelur maupun pedaging akan memberikan perhatian tersendiri bagi peternak. Artinya manajemen penyimpanan ransum yang baik di peternakan perlu diterapkan lebih maksimal. Bukan hanya peternak self mixing (mencampur ransum sendiri) yang harus waspada, peternak ayam pedaging pun yang biasa menggunakan ransum jadi perlu ikut hati-hati. Alasannya karena ternyata banyak pula ransum jadi yang akibat disimpan dengan kondisi “seadanya” bisa menjadi media yang ideal bagi jamur untuk tumbuh dan menghasilkan racun.


Korisa di Ayam Pedaging Mulai Marak
Penyakit korisa sudah akrab di telinga para peternak. Nama lainnya adalah snot, dan pilek menjadi ciri khasnya. Jika dilihat dari grafik 1 dan 2, kasus korisa sampai Agustus 2012 masih lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Namun dari kenyataan di lapangan, kasus korisa terutama pada ayam pedaging marak dilaporkan oleh peternak. Pada ayam pedaging, korisa lebih banyak menyerang di umur 22-28 hari (Tabel 2).
Kasus Marek Mengintai Ayam Petelur
Penyakit Marek atau yang disebut juga fowl paralysis merupakan penyakit infeksius yang sangat menular. Penyakit ini sering menyerang ayam petelur di atas umur 10 minggu. Gejala klinis yang muncul ketika ayam terserang Marek diantaranya lumpuh (kaki, sayap, leher), tumor di folikel bulu, pupil mata menyempit dan pertumbuhan ayam terhambat. Dari bedah ayam akan ditemukan perubahan patologi anatomi berupa pembesaran syaraf dan tumor pada berbagai organ (organ tubuh membesar).
Kasus Marek pada ayam petelur di tahun 2012 pernah dilaporkan oleh tenaga lapangan Medion meskipun jumlah kejadiannya masih sangat sedikit. Gejala klinis utama berupa lumpuh pada kaki bisa dikelirukan dengan kasus defisiensi nutrisi seperti kekurangan kalsium (Ca). Untuk itu diagnosa yang tepat dengan melihat perubahan patologi anatomi lainnya perlu dilakukan.

Kesimpulan Evaluasi Penyakit 2012
Melihat perkembangan penyakit selama Januari - Agustus 2012 dibandingkan dengan 2010 dan 2011 dapat diperoleh kesimpulan bahwa:
  • Penyakit yang terkait dengan manajemen yang kurang tepat, yaitu CRD, CRD kompleks dan colibacillosis masih menunjukkan dominasinya dan hal ini adalah permasalahan klasik. Perlu sekiranya kita evaluasi kembali mengenai manajemen perkandangan dan tata laksana pemeliharaan yang kita aplikasikan.
  • Mulai meningkatnya kasus aspergillosis dan mikotoksikosis pada ayam petelur dan pedaging perlu diantisipasi dengan mewaspadai tumbuhnya jamur, terutama pada ransum dan tempat minum. Jika diperlukan bisa ditambahkan mold inhibitor (penghambat pertumbuhan jamur). Dan yang tak kalah penting saat kondisi lembab, terutama saat musim hujan, penggunaan toxin binder sangat berguna untuk menekan efek immunosuppressive yang ditimbulkan dari racun jamur. Contoh toxin binder produksi Medion yang bisa digunakan adalah Free Tox
  • Meskipun AI di tahun 2012 ini mengalami penurunan, namun kita tetap perlu waspada, mengingat virus ini labil dan mudah bermutasi. Selain itu mengingat bulan November hingga Desember ini sebagian wilayah sudah mulai kembali memasuki musim hujan, maka bukan mustahil kejadian AI akan meningkat lagi karena musim hujan merupakan faktor predisposisi berkembangnya virus AI. Prediksi serupa juga berlaku dalam kasus ND. Dari gambaran kedua penyakit viral tersebut, maka kita dituntut untuk melakukan evaluasi terhadap jenis vaksin yang digunakan (apakah ada perubahan atau tidak), manajemen pemberian vaksin secara tepat dan penerapan biosecurity secara ketat.
  • Pada ayam petelur, kasus ILT menunjukkan pola peningkatan yang sangat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penentuan jadwal vaksinasi dan aplikasi vaksinasi yang tepat perlu diperhatikan. Pastikan ayam dalam kondisi sehat sebelum divaksinasi ILT karena jika vaksinasi diberikan pada ayam yang sedang stres atau sakit, hal itu justru akan memperparah kondisi ayam dan mengakibatkan tubuh ayam (dalam hal ini organ limfoid/kekebalan) tidak mampu membentuk antibodi yang protektif (melindungi). Aplikasi vaksinasi ILT hendaknya diberikan melalui tetes mata untuk menggertak kekebalan  lokal di saluran pernapasan bagian atas, yaitu dengan mengaktifkan kelenjar Harderian.
Selain itu, dalam pelaksanaan vaksinasi ILT, kita juga harus memastikan bahwa setiap ekor ayam divaksin dalam waktu bersamaan, serta mendapatkan dosis yang tepat, penuh dan seragam. Jika tidak, maka hal itu akan memicu terjadinya rolling reaction dan ayam akan mengalami reaksi post vaksinasi berkepanjangan.

Untuk meminimalkan reaksi post vaksinasi, selain melakukan vaksinasi hanya pada ayam yang sehat dan dosisnya seragam, hal lain yang harus dilakukan: Hindari pemberian vaksin ND dan IB aktif pada 1-2 minggu sebelum vaksinasi ILT dan lakukan vaksinasi ILT ke seluruh ayam pada satu flok/kandang secara serentak/bersamaan dalam satu hari. Selain itu, berikan vitamin setelah vaksinasi ILT untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. Jika perlu, lakukan cleaning program dengan memberikan antibiotik 3-4 hari sebelum vaksinasi jika daerah peternakan rawan infeksi bakterial yang menyerang pernapasan pada umur mendekati jadwal vaksinasi ILT.

  • Infeksi korisa pada ayam pedaging, termasuk petelur, memang bisa diatasi dengan pemberian obat/antibiotik. Meski demikian, penanganan korisa akan jauh lebih optimal dan tuntas jika disertai dengan vaksinasi korisa. Alasannya ialah predileksi (tempat kesukaan) bakteri penyebab korisa, yaituAvibacterium paragallinarum, berada di sinus infraorbitalis yang miskin pembuluh darah sehingga obat yang diberikan hanya sedikit yang bisa mencapai sinus infraorbitalis tersebut. Akibatnya, bakteri ini tidak bisa dibasmi secara tuntas hanya dengan pemberian obat.
Vaksin korisa merupakan vaksin inaktif, sehingga program pemberian vaksin korisa hendaknya dilakukan pada 3-4 minggu sebelum umur serangan korisa. Atau pada ayam pedaging, vaksinasi korisa bisa dilakukan pada umur 1-2 minggu menggunakan vaksin Medivac Coryza B atau Medivac Coryza T Suspension.

Catatan untuk Tahun 2013
Dari seluruh data yang telah dirangkum, diperkirakan penyakit ayam di tahun 2013 tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2012. Argumen yang mendasari prediksi tersebut adalah kondisi musim yang masih labil. Ketika musim hujan dan pancaroba, peternak perlu lebih berhati-hati terhadap serangan penyakit AI dan ND. Penyakit korisa pada ayam pedaging, kemungkinan akan terus mengancam. Ditambah dengan kemunculan penyakit Marek dan jamur yang sedikit demi sedikit menunjukkan eksistensinya.
Sebagai bekal untuk menghadapi tantangan usaha peternakan di tahun yang akan datang, maka langkah-langkah strategis terkait dengan iklim tidak menentu, mutasi bibit penyakit dan manajemen pemeliharaan harus dilakukan.
a)  Dalam menghadapi iklim yang tidak menentu, setidaknya ada 3 langkah strategis yang harus dipersiapkan:

1. Menjaga kondisi lingkungan kandang tetap nyaman
  • Atap tidak bocor
  • Dinding kandang harus mampu mengurangi kecepatan angin
  • Buka tutup tirai disesuaikan dengan kondisi cuaca
  • Atur sirkulasi udara dalam kandang sebaik mungkin
  • Jaga kondisi litter agar tetap kering
  • Kepadatan kandang harus disesuaikan dengan pertumbuhan maupun umur ayam
  •   2. Meningkatkan stamina tubuh ayam
  • Pemberian feed suplement (vitamin) seperti Vita Stress atau Vita Strong
  • Pemberian ransum yang berkualitas dan sesuai jumlahnya dengan kebutuhan ayam
  •  3. Mengurangi konsentrasi bibit penyakit
  • Desinfeksi kandang serta tempat makan dan minum ayam setiap hari
  • Jaga kebersihan lingkungan kandang
  • Pemberian antibiotik berspektrum luas untuk cleaning program disesuaikan dengan sejarah kasus di daerah setempat
b)  Terkait mutasi dan manajemen budidaya terhadap penyakit, langkah strategis yang perlu dilakukan yaitu:
  • Kontrol penggunaan antibiotik di lapangan terutama dari cara pemberian dan ketepatan dosisnya, serta melakukan rolling antibiotik untuk mengurangi resistensi bakteri terhadap antibiotik, dimana hal ini menjadi faktor predisposisi terjadinya mutasi bibit penyakit
  • Lakukan pengobatan (pemberian antibiotik) sampai tuntas yaitu minimal 3 hari berturut-turut
  • Lakukan rolling antibiotik setelah melakukan 3-4 kali pengobatan dengan jenis antibiotik yang sama
c)  Dari segi edukasi terkait teknis peternakan dan pengembangan soft skill para peternak, pelayanan yang bisa diikuti seperti:
  • Diklat (pendidikan dan pelatihan), dimana diklat ini telah dilakukan oleh Medion sejak Agustus 2003
  • Ceramah dan roadshow yang secara aktif diberikan kepada para peternak
Sedangkan terkait dengan perubahan gejala klinis dari suatu kasus penyakit, misalnya AI, maka dibutuhkan kemampuan analisa penyakit yang lebih tajam oleh peternak. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan peternak guna meningkatkan kemampuan analisa terhadap suatu penyakit, yaitu:
  1. Bersikap proaktif untuk terus mengikuti perkembangan penyakit di lapangan.
  2. Kroscek gejala klinis dengan perubahan patologi anatomi melalui bedah ayam.
  3. Pemanfaatan uji serologis (misalnya HI test dan ELISA) dan biologimolekuler (misalnya PCR) sebagai sarana meneguhkan diagnosa penyakit. Untuk mendukung diagnosa penyakit yang tepat, Medion menghadirkan MediLab (Medion Laboratorium) di beberapa kota besar di Indonesia. Dengan begitu peternak diharapkan terbantu dengan adanya jasa uji laboratorium ini.
Penanganan vaksin sangat berpengaruh terhadap keberhasilan vaksinasi. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan vaksin:
  • Vaksin tidak kadaluarsa
  • Botol segel masih utuh
  • Vaksin inaktif tidak pernah beku
  • Tablet vaksin aktif padat dan utuh (tidak kisut)
  • Penyimpanan (suhu) vaksin harus sesuai, vaksin tidak boleh terkena sinar matahari, panas brooder, desinfektan atau dilarutkan pada air dengan pH yang tidak sesuai
  • Teknik dan handling ayam saat vaksinasi harus tepat

Jika vaksinasi sudah dilakukan dengan tepat, selanjutnya dukung dengan penerapan biosecurity secara ketat. Biosecurity bisa diartikan sebagai garda depan dalam pencegahan maupun penanganan penyakit. Merebaknya penyakit yang terjadi secara berulang besar kemungkinan disebabkan karena penerapan biosecurity tidak optimal. Akibatnya bibit penyakit masih memiliki kesempatan untuk bertahan di dalam lingkungan peternakan.
Pencapaian kita saat ini haruslah menjadi motivasi bagi kita untuk selalu menjadi lebih baik. Mari sejenak kita evaluasi hasil peternakan kita, kemudian atur strategi untuk menghadapi tahun yang akan datang. Sukses selalu peternak Indonesia.

0 komentar:

Poskan Komentar